<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- fandywari_crosscol_AdSense1_1x1_as --> <ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-client="ca-pub-5060648429783245" data-ad-slot="7527793019" data-ad-format="auto"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

Thursday, 27 November 2014

LANDASAN KURIKULUM DENGAN AGAMA, FILOSOFIS, PSIKOLOGIS

BAB I
PENDAHULUAN
       A.    Latar Belakang
Sekarang ini, pentingnya peran dan fungsi kurikulum memangsudah sangat disadari dalam sistem pendidikan nasional. Ini dikarenakan kurikulum adalah hal yang sangat berpengaruh dalam merealisasikan program pendidikan, baik formal mupun non formal, sehingga gambaran sistem pendidikan dapat terlihat jelas dalam kurikulum tersebut.
Seiring berjalannya waktu dan perubahan zaman, dan perkembangan masyarakat, serta kemajuan ilmu pengetahuandan teknologi, dunia pendidikan dituntut melakukan inovasi-inovasi, termasuk pula didalamnya kurikulum. Kurikulum senanatiasa berkembang menuntut perubahan yang terjadi di masyarakat.

Pengembangan sesuatu haruslah mempunyai dasar, begitu pula dengan pengembangan kurikulum. Jika sesuatu tanpa dasar yang tepat dan kuat, maka sesuatu tersebut akan cepat roboh. Ada beberapa segi yang mendasari dalam pengembangan kurikulum, diantaranya agama, filosofis, dan psikologis. Segi-segi tersebut mempunyai peran vital didalam pengembangan kurikulum.
     
 B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat diambil dia rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana landasan pengembangan kurikulum dari segi agama?
2.      Bagaimana landasan pengembangan kurikulum dari segi filosofis?
3.      Bagaimana landasan pengembangan kurikulum dari segi psikologis

   C.     Tujuan
Dari rumusan masalah tersebut, penyusun bertujuan untuk:
1.      Mengetahui landasan pengembangan kurikulum dari segi agama.
2.      Mengetahui landasan pengembangan kurikulum dari segi filosofis.
3.      Mengetahui landasan pengembangan kurikulum dari segi psikologis.



BAB II
PEMBAHASAN

      A.    Landasan Pengembangan Kurikulum Dari Segi Agama
Agama tidak bisa lepas dari dunia pendidikan termasuk pula di dalamnya, yaitu kurikulum. Agama erat kaitannya dengan keadaan masyarakat yang mempercayainya. Karena kepercayaan masyarakat tersebut, masyarakat memasukkan nilai-nilai agama didalam segala kehidupan dunia mereka, tanpa terkecuali dalam mengembangkan kurikulum.[1][1] Kurikulum akan semakin populer bila landasan dari segi agamanya sama dengan mayoritas pemeluk agama di daerah dimana sekolah tersebut berada. Oleh karena itu banyak lembaga pendidikan yang menjadikan agama sebagai pusat dari pengembangan kurikulumnya.
Dari landasan ini lahirlah lembaga pendidikan yang berdasar agama, seperti pondok pesantren, madrasah-madrasah, sekolah tinggi islam, sekolah dasar islam, sekolah dasar kristen, atau sekolah tinggi kristen.

B.    Landasan Filosofis
Pendidikan berintikan interaksi antar manusia, terutama antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Di dalam interaksi tersebut terlibat isi yang diinteraksikan serta bagaimana interaksi tersebut berlangsung. Apakah yang menjadi tujuan pendidikan, siapa pendidik dan peserta didik, apa isi pendidikan dan bagaimana proses interaksi pendidikan tersebut, merupakan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban yag mendasar, yang esensial yaitu jawaban-jawaban filosofis.
Secara harfiah filosofis (filsafat) berarti “cinta akan kebijaksanaan” (love of wisdom). Orang belajar berfilsafat agar ia menjadi orang yang mengerti dan berbuat secara bijak. Untuk dapat mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak, ia harus tahu atau berpengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses berpikir, yaitu berfikir secara sistematis, logis, dan mendalam. Pemikiran demikian dalam berfilsafat sering disebut sebagai pemikiran radikal, atau berpikir sampai ke akar-akarnya (radic berarti akar). Filsafat mencakup keseluruhan pengetahuan manusia, berusaha melihat segala yang ada ini sebagai satu kesatuan yang menyeluruh dan mencoba mengetahui kedudukan manusia di dalamnya. Sering dikatakan dan sudah menjadi terkenal dalam dunia keilmuan bahwa filsafat merupakan ibu dari segala ilmu, pada hakikatnya filsafat jugalah yang menentukan tujuan umum pendidikan.
Berdasarkan luas lingkup yng menjadi objek kajiannya, filsafat dapat dibagi dalam dua cabang besar, yaitu filsafat umum atau filsafat murni dan filsafat khusus atau terapan, sedangkan filsafat umum juga terbagi menjadi tiga bagian lagi yaitu :
      Metafisika, membahas hakikat kenyataan atau realitas yang meliputi metafisika umum atau ontology, dan metafisika khusus yang meliputi kosmologi (hakikat alam semesta), teologi (hakikat ketuhanan) dan antropologi filsafat (hakikat manusia).
      Epistemologi dan logika, membahas hakikat pengetahuan (sumber pengetahuan, metode mencari pengetahuan, kesahihan pengetahuan, dan batas-batas pengetahuan) dan hakikat penalaran (deduktif dan induktif).
      Aksiologi, membahas hakikat nilai dengan cabang-cabangnya etika (hakikat kebaikan), dan estetika (hakikat keindahan).
Adapun cabang – cabang filsafat khusus atau terapan, pembagiannya didasarkan pada kekhususan objeknya antara lain : filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat ilmu, filsafat religi, filsafat moral, dan filsafat pendidikan. 
Kurikulum pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Karena tujuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh filsafat atau pandangan hidup sutu bangsa, maka kurikulum yang dikembangkan juga harus mencerminkan falsafah atau pandangan hidup yang dianut oleh bangsa tersebut. Oleh karena itu, terdapat hubungan yang sangat erat antara kurikulum pendidikan di suatu Negara dengan filasafat Negara yang dianutnya. Sebagai contoh, pada waktu Indonesia dijajah oleh Belanda, maka kurikulum yang dianut pada masa itu sangat berorientasi pada kepentingan politik Belanda. Demikian pula pada saat Negara kita dijajah oleh Jepang, maka kurikulum yang dianutnya juga berorientasi kepada kepentingan dan sistem nilai yang dianut oleh Jepang tersebut. Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 agustus 1945, Indonesia menggunakan pancasila sebagai dasar dan falsafah hidup bermasyarakat, berbangsa dn bernegara, maka kurikulum pendidikan pun disesuaikan dengan nilai-nilai pancasila itu sendiri. Perumusan tujuan pendidikan, penyususnan program pendidikan, pemilihan dan penggunaan pendekatan atau strategi pendidikan, peranan yang harus dilakukan pendidik/peserta didik juga harus sesuai dengan falsafah bangsa ini yaitu pancasila.
B.     Landasan Psikologis
Dalam proses pendidikan terjadi interaksi antar-individu, yaitu antara peserta didik dengan pendidik dan juga antara peserta didik dengan orang-orang yang lainnya. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya seperti binatang, benda dan tumbuhan karena salah satunya yaitu kondisi psikologis yang dimilikinya. Benda dan tanaman tidak mempunyai aspek psikologis. Sedangkan binatang tidak memiliki taraf psikologis yang lebih tinggi dibanding manusia yang juga memiliki akal sebagai titik pembeda di antara keduanya.
Kondisi psikologis merupakan “karakteristik psiko-fisik seseorang sebagai individu, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk prilaku dalam interaksi dengan lingkungan”. Perilaku-perilakunya merupakan manifestasi dari ciri-ciri kehidupannya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, prilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Pengembangan kurikulum harus dilandasi oleh asumsi-asumsi yang berasal dari psikologi yang meliputi kajian tentang apa dan bagaimana perkembangan peserta didik, serta bagaimana peserta didik belajar. Atas dasar itu terdapat dua cabang psikologi yang sangat penting diperhatikan dan besar kaitannya  dalam pengembangan kurikulum, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar.




BAB III
PENUTUP

       A.    Kesimpulan
 Diantara landasan mengenai perkembangan kurikulum di antaranya ,agama,filosofis,dan psikologis.
Keurgensiannya agama menjadi landasan pengembangan kurikulum dikarenakan pendidikan mengikuti nilai-nilai yang masyarakat anut dan percayai didalam agama yang masyarakat anut.
Filosofis dijadikan sebagai landasan pengembangan kurikulum karena didalam mengembangkankurikulum dibutuhkan pandangan serta tujuan yang tepat yang ingin dicapai dengan kurikulum tersebut. Falsafah yang sering mempengaruhi perkembangan kurikulum, yaitu falsafah bangsa, falsafah lembaga pendidikan.
Psikologis dimasukkan kedalam landasan perkembangan kurikulum dikarenakan perlu mendalaminya kejiwaan dan karakter anak didik agar kurikulum tersebut tepat dalam memberikan materi yang diajarkan, kemampuan yang diberikan, proses pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran.

 DAFATAR PUSTAKA

Hamalik, Oemar.Dasar –Dasar pengembangan kurikulum.PT. Remaja Rosda Karya,Bandung.2011
Abdullah, Idi, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik. Ar-ruzz Media, Jogjakarta. 2011
http://ins-think.blogspot.com/2012/03/landasan-pengembangan-kurikulum.html








[1][1]http://ins-think.blogspot.com/2012/03/landasan-pengembangan-kurikulum.html

No comments:

Post a Comment