BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sekarang ini,
pentingnya peran dan fungsi kurikulum memangsudah sangat disadari dalam sistem
pendidikan nasional. Ini dikarenakan kurikulum adalah hal yang sangat
berpengaruh dalam merealisasikan program pendidikan, baik formal mupun non
formal, sehingga gambaran sistem pendidikan dapat terlihat jelas dalam
kurikulum tersebut.
Seiring berjalannya
waktu dan perubahan zaman, dan perkembangan masyarakat, serta kemajuan ilmu
pengetahuandan teknologi, dunia pendidikan dituntut melakukan inovasi-inovasi,
termasuk pula didalamnya kurikulum. Kurikulum senanatiasa berkembang menuntut
perubahan yang terjadi di masyarakat.
Pengembangan sesuatu
haruslah mempunyai dasar, begitu pula dengan pengembangan kurikulum. Jika
sesuatu tanpa dasar yang tepat dan kuat, maka sesuatu tersebut akan cepat
roboh. Ada beberapa segi yang mendasari dalam pengembangan kurikulum,
diantaranya agama, filosofis, dan psikologis. Segi-segi tersebut mempunyai
peran vital didalam pengembangan kurikulum.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di
atas, dapat diambil dia rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana landasan pengembangan kurikulum dari segi agama?
2.
Bagaimana landasan pengembangan kurikulum dari segi filosofis?
3.
Bagaimana landasan pengembangan kurikulum dari segi psikologis
C. Tujuan
Dari rumusan masalah
tersebut, penyusun bertujuan untuk:
1.
Mengetahui landasan pengembangan kurikulum dari segi agama.
2.
Mengetahui landasan pengembangan kurikulum dari segi filosofis.
3.
Mengetahui landasan pengembangan kurikulum dari segi psikologis.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Landasan Pengembangan Kurikulum Dari Segi Agama
Agama tidak bisa lepas
dari dunia pendidikan termasuk pula di dalamnya, yaitu kurikulum. Agama erat
kaitannya dengan keadaan masyarakat yang mempercayainya. Karena kepercayaan
masyarakat tersebut, masyarakat memasukkan nilai-nilai agama didalam segala
kehidupan dunia mereka, tanpa terkecuali dalam mengembangkan kurikulum.[1][1] Kurikulum akan semakin populer bila landasan dari segi agamanya sama
dengan mayoritas pemeluk agama di daerah dimana sekolah tersebut berada. Oleh
karena itu banyak lembaga pendidikan yang menjadikan agama sebagai pusat dari
pengembangan kurikulumnya.
Dari landasan ini
lahirlah lembaga pendidikan yang berdasar agama, seperti pondok pesantren,
madrasah-madrasah, sekolah tinggi islam, sekolah dasar islam, sekolah dasar
kristen, atau sekolah tinggi kristen.
B. Landasan Filosofis
Pendidikan
berintikan interaksi antar manusia, terutama antara pendidik dan peserta didik
untuk mencapai tujuan pendidikan. Di dalam interaksi tersebut terlibat isi yang
diinteraksikan serta bagaimana interaksi tersebut berlangsung. Apakah yang
menjadi tujuan pendidikan, siapa pendidik dan peserta didik, apa isi pendidikan
dan bagaimana proses interaksi pendidikan tersebut, merupakan
pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban yag mendasar, yang esensial
yaitu jawaban-jawaban filosofis.
Secara harfiah
filosofis (filsafat) berarti “cinta akan kebijaksanaan” (love of wisdom).
Orang belajar berfilsafat agar ia menjadi orang yang mengerti dan berbuat
secara bijak. Untuk dapat mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak, ia harus
tahu atau berpengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses
berpikir, yaitu berfikir secara sistematis, logis, dan mendalam. Pemikiran
demikian dalam berfilsafat sering disebut sebagai pemikiran radikal, atau
berpikir sampai ke akar-akarnya (radic berarti akar). Filsafat mencakup
keseluruhan pengetahuan manusia, berusaha melihat segala yang ada ini sebagai
satu kesatuan yang menyeluruh dan mencoba mengetahui kedudukan manusia di
dalamnya. Sering dikatakan dan sudah menjadi terkenal dalam dunia keilmuan
bahwa filsafat merupakan ibu dari segala ilmu, pada hakikatnya filsafat jugalah
yang menentukan tujuan umum pendidikan.
Berdasarkan
luas lingkup yng menjadi objek kajiannya, filsafat dapat dibagi dalam dua
cabang besar, yaitu filsafat umum atau filsafat murni dan filsafat khusus atau
terapan, sedangkan filsafat umum juga terbagi menjadi tiga bagian lagi yaitu :
Metafisika, membahas hakikat kenyataan atau realitas yang meliputi
metafisika umum atau ontology, dan metafisika khusus yang meliputi kosmologi
(hakikat alam semesta), teologi (hakikat ketuhanan) dan antropologi filsafat
(hakikat manusia).
Epistemologi dan logika, membahas hakikat pengetahuan (sumber
pengetahuan, metode mencari pengetahuan, kesahihan pengetahuan, dan batas-batas
pengetahuan) dan hakikat penalaran (deduktif dan induktif).
Aksiologi, membahas hakikat nilai dengan cabang-cabangnya etika
(hakikat kebaikan), dan estetika (hakikat keindahan).
Adapun cabang –
cabang filsafat khusus atau terapan, pembagiannya didasarkan pada kekhususan
objeknya antara lain : filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat ilmu,
filsafat religi, filsafat moral, dan filsafat pendidikan.
Kurikulum pada
hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Karena tujuan
pendidikan sangat dipengaruhi oleh filsafat atau pandangan hidup sutu bangsa,
maka kurikulum yang dikembangkan juga harus mencerminkan falsafah atau
pandangan hidup yang dianut oleh bangsa tersebut. Oleh karena itu, terdapat
hubungan yang sangat erat antara kurikulum pendidikan di suatu Negara dengan
filasafat Negara yang dianutnya. Sebagai contoh, pada waktu Indonesia dijajah
oleh Belanda, maka kurikulum yang dianut pada masa itu sangat berorientasi pada
kepentingan politik Belanda. Demikian pula pada saat Negara kita dijajah oleh
Jepang, maka kurikulum yang dianutnya juga berorientasi kepada kepentingan dan
sistem nilai yang dianut oleh Jepang tersebut. Setelah Indonesia merdeka pada
tanggal 17 agustus 1945, Indonesia menggunakan pancasila sebagai dasar dan
falsafah hidup bermasyarakat, berbangsa dn bernegara, maka kurikulum pendidikan
pun disesuaikan dengan nilai-nilai pancasila itu sendiri. Perumusan tujuan
pendidikan, penyususnan program pendidikan, pemilihan dan penggunaan pendekatan
atau strategi pendidikan, peranan yang harus dilakukan pendidik/peserta didik
juga harus sesuai dengan falsafah bangsa ini yaitu pancasila.
B.
Landasan Psikologis
Dalam proses
pendidikan terjadi interaksi antar-individu, yaitu antara peserta didik dengan
pendidik dan juga antara peserta didik dengan orang-orang yang lainnya. Manusia
berbeda dengan makhluk lainnya seperti binatang, benda dan tumbuhan karena
salah satunya yaitu kondisi psikologis yang dimilikinya. Benda dan tanaman
tidak mempunyai aspek psikologis. Sedangkan binatang tidak memiliki taraf
psikologis yang lebih tinggi dibanding manusia yang juga memiliki akal sebagai
titik pembeda di antara keduanya.
Kondisi
psikologis merupakan “karakteristik psiko-fisik seseorang sebagai individu,
yang dinyatakan dalam berbagai bentuk prilaku dalam interaksi dengan lingkungan”.
Perilaku-perilakunya merupakan manifestasi dari ciri-ciri kehidupannya, baik
yang tampak maupun yang tidak tampak, prilaku kognitif, afektif, dan
psikomotorik.
Pengembangan
kurikulum harus dilandasi oleh asumsi-asumsi yang berasal dari psikologi yang
meliputi kajian tentang apa dan bagaimana perkembangan peserta didik, serta bagaimana
peserta didik belajar. Atas dasar itu terdapat dua cabang psikologi yang sangat
penting diperhatikan dan besar kaitannya dalam pengembangan kurikulum,
yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Diantara landasan mengenai perkembangan
kurikulum di antaranya ,agama,filosofis,dan psikologis.
Keurgensiannya agama
menjadi landasan pengembangan kurikulum dikarenakan pendidikan mengikuti
nilai-nilai yang masyarakat anut dan percayai didalam agama yang masyarakat
anut.
Filosofis dijadikan
sebagai landasan pengembangan kurikulum karena didalam mengembangkankurikulum
dibutuhkan pandangan serta tujuan yang tepat yang ingin dicapai dengan
kurikulum tersebut. Falsafah yang sering mempengaruhi perkembangan kurikulum,
yaitu falsafah bangsa, falsafah lembaga pendidikan.
Psikologis dimasukkan
kedalam landasan perkembangan kurikulum dikarenakan perlu mendalaminya kejiwaan
dan karakter anak didik agar kurikulum tersebut tepat dalam memberikan materi
yang diajarkan, kemampuan yang diberikan, proses pembelajaran, dan evaluasi
pembelajaran.
DAFATAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar.Dasar –Dasar pengembangan
kurikulum.PT. Remaja Rosda Karya,Bandung.2011
Abdullah, Idi, Pengembangan
Kurikulum: Teori dan Praktik. Ar-ruzz Media, Jogjakarta. 2011
http://ins-think.blogspot.com/2012/03/landasan-pengembangan-kurikulum.html
http://fabelster.wordpress.com/2012/12/18/landasan-pengembangan-kurikulum/. Diakses pada 2 november 2014
No comments:
Post a Comment